Peribahasa Bahasa Jawa Ini Cerminkan Sifat Manusia

Peribahasa Bahasa Jawa Ini Cerminkan Sifat Manusia

Peribahasa Bahasa Jawa Ini Cerminkan Sifat Manusia

Peribahasa Bahasa Jawa Ini Cerminkan Sifat Manusia – Peribahasa tidak hanya sekadar sebuah karya sastra saja, bisa juga menjadi salah satu cara menggambarkan tabiat manusia yang beraneka ragam. Sebab, di antara kita pasti memiliki sikap atau pandangan yang berbeda pada suatu hal.

Maka kali ini ada peribahasa dalam bahasa Jawa yang punya makna dalam soal tingkah laku manusia. Ini sekaligus sebagai pengingat untuk kita agar dapat berbuat kebaikan setiap harinya. mari langsung kita simak berikut ini.

1. Anak polah bapak kepradah

Orang tua selalu mengingatkan kita agar menjaga nama baik keluarga. Sebab, tingkah laku kita dalam masyarakat dapat memberi efek pula pada ayah dan ibu. Jika kita berbuat baik kepada sesama atau dapat berprestasi maka kita secara tak langsung mengangkat derajat orang tua.

Sebaliknya, jika berbuat onar sampai merugikan orang lain maka ayah dan ibu kita juga akan menanggung malu. Kondisi demikian dapat digambarkan dalam peribahasa anak polah bapak kepradah (anak bertingkah bapak menanggung malu). Semoga kita selalu bisa menjaga nama baik keluarga.

2. Diobong ora kobong, disiram ora teles

Melansir dari http://poker88asia.info/ setiap saat kita berjibaku menghadapi serangkaian rintangan dalam hidup. Entah itu dalam urusan pekerjaan, hubungan percintaan hingga saat berada di bangku sekolah atau kuliah. Ada saja hambatan yang muncul menyergap diri kita.

Tapi, yang membedakan antara kita dengan orang lain ialah semangat tak kenal lelah. Meski ditimpa banyak kesulitan kita tak menyerah sedikit pun. Sebab, kita percaya bahwa apa yang saat ini kita lakukan dapat menuai hasil di kemudian hari.

Itulah makna dari peribahasa diobong ora kobong, disiram ora teles (dibakar tidak terbakar, disiram tidak basah).

3. Kakhean gludhuk ora udan

Kita sering menemukan orang yang banyak bicara, tetapi hasil usaha yang dia kerjakan ternyata tak sesuai dengan apa yang dibicarakan sebelumnya. Padahal, kita tak perlu melakukan hal demikian.

Kita bisa membuktikan bahwa kita mampu menuntaskan sesuatu dengan menyelesaikannya. Sebab, bukan omongan yang kita percaya oleh seseorang terhadap kita tetapi hasil dan usaha yang sudah kita perbuat.

Sikap banyak bicara sedikit bekerja ini dapat tertuangkan dalam peribahasa kakehan gludhuk ora udan (kebanyakan guntur/petir tapi tidak hujan).

4. Sing sapa temenan tinemu

Kita sering ingatkan untuk bersungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu. Sebab, apa yang kita kerjakan dengan niat yang besar saat ini akan berbuah di kemudian hari.

Walau pekerjaan kita terlihat sepele tetapi itu akan jadi batu loncatan bagi kesuksesan kita di kemudian hari. Petuah ini persis seperti peribahasa sing sapa temenan tinemu (siapa yang bersungguh-sungguh akan menemukannya).

5. Kutuk marani sunduk

Sebagian besar dari kita pasti menghindarkan diri dari sebuah bahaya. Tetapi, ada pula orang yang nekat mendekati sumber bahaya.

Bukan untuk menolong tetapi ingin mengetahui atau bahkan sekadar mengabadikan momen-momen berbahaya yang sedang berlangsung. Perilaku semacam ini pastinya membahayakan nyawa mereka.

Dalam bahasa Jawa ada peribahasa yang mencerminkan hal seperti itu yakni kutuk marani sunduk (ikan menghampiri sunduk).